Khataman Majlis Ngiyup

Bermula dari permintaan Mas Dayat bakul endhog lima tahun lalu. Dia minta ngaji kepadaku. Aku tak langsung mengiyakan karena dua alasan. Pertama, aku masih pendatang baru di Kalibening. Kedua, masih banyak majlis lain buat ngaji di kampung ini.

Barulah dua tahun kemudian (tiga tahun lalu, pasca pandemi), kusanggupi permintaannya. Asalkan ngajinya digelar di masjid/mushalla, sebagai upaya meramaikan baitullah. Pun kegiatan intinya adalah tadarus Quran, baru kemudian diimbuhi ngaji kitab. Sebab aku teringat hadits Nabi yang pernah kudengar dari almarhum Mbah Yai Najib Krapyak;


ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم الا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده


"Tidaklah berkumpul suatu kelompok di suatu rumah di antara rumah-rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan saling mempelajarinya, melainkan turunlah atas mereka ketenangan, terkucur kepada mereka rahmat, mengerubungi mereka para malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang bersama-Nya."



Ngaji pun dimulai pada malam Jumat bakda Isya di masjid Al-Hidayah, sebelah rumah Hidayat, ngaji kitab Bidayatul Hidayah. Kami cuma berdua. Lalu belakangan datang Mas Rosyid, lalu datang lagi Mas Agus. Kegiatan dimulai jam 8 malam, diawali tadarus Quran bersama, lalu bershalawat, kemudian mutolaah kitab, ditutup jam 9 malam, lanjut ngobrol sambil ngeteh sebentar. Lokasi pun nambah, bergantian di Mushola LPKA Darul Ulya.


Hingga suatu malam aku mimpi berada di satu majlis bersama almarhum Mbah Yai Najib. Di situ beliau menyuruhku baca maulid Diba'. Sejak saat itu, aku menambahkan bacaan shalawat pembuka Maulid Diba' setelah tadarus Quran bersama di majlis kami, yang kami sebut Majlis Ngiyup.


Kenapa 'ngiyup'? Ya karena kami memang berniat ngiyup (bernaung) di majlis ini dari terik dan badai kehidupan. Dengan tadarus Quran, bershalawat, dan mutolaah dhawuh para wali. Itu saja. Lalu di tahun kedua, majlis kupindah jadi malam Rabu, sebab aku musti kuliah dan nginap di Solo tiap Kamis-Jumat.


Kegiatan ngaji mulai bervariasi. Pernah ada permintaan ngaji tema pernikahan, maka selama beberapa kali majlis kubahas tentang fikih pernikahan. Kadang kuselingi juga dengan syiiran, mujahadah, dan Maulid Jawi. Teman-teman juga mulai ngide untuk ziarah ke makam ulama sekitar sekalian kongkow ngangkring. Okelah, yang penting enjoy dan bahagia.


Jamaah bertambah. Belakangan datang Mas Afifi, Mas Roni, Mas Fathur, Mas Rudin, Mas Pandu, dan Mas Kholil. Tempat ngaji pun berpindah, di rumah baru Mas Rosyid dan mushola At-Taqwa. Destinasi ziarah yang pernah kami kunjungi; Mbah Damarjati, Mbah Ronosentiko, Mbah Wahid Tingkir, Mbah Munajat Tingkir, Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Mad Watucongol, Mbah Hasan Munadi Nyatnyono, dan Mbah Najib Jogja. Kami pernah punya keinginan ziarah Sunan Kudus sekalian ngaji tafsir Gus Baha, tapi belum kesampaian.


Alhamdulillah. Setelah tiga tahun ngiyup seminggu sekali, kadang libur juga, akhirnya kami mengkhatamkan kitab Bidayatul Hidayah pada Selasa malam Rabu, 16 Sya'ban 1447 atau 3 Februari 2026. Sedangkan tadarus Quran sampai pada juz 15, surat Isra' ayat 70.


Jadi ingat. Pertama kali aku ngaji kitab Bidayatul Hidayah saat pasanan di Giren, kepada Kiai Ahmad Sa'idi. Lalu pernah pula ngaji di Al-Fachriyyah, kepada Habib Ahmad. Terakhir ngaji kitab ini kepada Kiai Abda' di Kalibening. Teringat pesan Habib Ahmad dahulu, bahwa Bidayatul Hidayah bukanlah kitab teoretik, melainkan kitab praktik.


Maka di majlis ngiyup, kami pun ngaji kitab ini pelan-pelan. Satu pertemuan satu pembahasan, lalu coba mengamalkan sampai pertemuan selanjutnya. Kuharap pertemuan-pertemuan kami ini bermanfaat, berkah, dan semerbak. Terutama untuk keluarga kami masing-masing.




















































Selanjutnya bagaimana? Terus atau tidak? Ganti kitab apa? Wallahu a'lam. Mengalir saja.


Kalibening, 4-2-2026

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya