ALAM NASYROH LAKA SHODROK. Bukankah sudah kami lapangkan bagimu dadamu? -- Orang yang mudah berbahagia ialah yang lapang dadanya, luas hatinya. Dipuji tidak terbang. Dicaci tidak tumbang. Biasa-biasa saja. -- Orang yang sempit hati akan mudah tersinggung, gampang tersulut amarah, tidak mau dikritik apalagi dicela. Maka sulit baginya merasa bahagia. -- Ada orang yang sangat benci kepada Sayyid Ali Zainal Abidin bin Husein. Suatu ketika saat baru keluar dari masjid, Sayyid Ali dicaci maki oleh orang itu. Selesai dicaci, Sayyid Ali tidak marah. Justru ia berkata, "Apa yang kau katakan itu baru sedikit. Sedangkan aib diriku yang engkau tidak tahu masih banyak lagi." -- Lantas Sayyid Ali menyalami orang itu sambil memberikan segepok uang. Si pencaci gemetar, ia terkesima oleh keluasan hati orang yang dicacinya, lalu berujar, "Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar keturunan Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam." WAWADHO'NAA 'ANKA WIZROK, dan sudah kami singkirkan bebanmu, ALLADZII ANQODHO ZHOHROK, yang memberatkan punggungmu. -- Orang bahagia bukanlah orang yang tidak pernah punya masalah. Bukan pula orang yang tidak punya beban hidup. Orang yang mengaku tidak punya masalah atau beban, mungkin dia belum betul-betul menjalani kehidupan. -- Orang bahagia ialah ia yang berani menghadapi masalah, berusaha memikul beban hidupnya, bertahan menahan berat di pundaknya, berjuang menuntaskan amanah dan tugas yang diembannya. WAROFA'NAA LAKA DZIKROK, dan sudah kami tinggikan sebutanmu. -- Orang yang mampu menuntaskan tugas dan tanggung jawab, bagaimanapun hasilnya, maka namanya luhur. Reputasinya baik. Sedangkan reputasi adalah modal dalam segala hal di dunia ini. Urusan usaha, kepemimpinan, hingga perjodohan, bergantung kepada reputasi yang baik.
Itulah ciri-ciri orang yang bahagia; luas hatinya, tegar menghadapi masalah hidup, dan dikenal amanah atas segala tanggung jawabnya. Lalu bagaimana cara agar bisa menjadi orang dengan kualitas semacam itu?