Ciri dan Cara Bahagia (Tadabbur Al-Insyirah)

ALAM NASYROH LAKA SHODROK. Bukankah sudah kami lapangkan bagimu dadamu? -- Orang yang mudah berbahagia ialah yang lapang dadanya, luas hatinya. Dipuji tidak terbang. Dicaci tidak tumbang. Biasa-biasa saja. -- Orang yang sempit hati akan mudah tersinggung, gampang tersulut amarah, tidak mau dikritik apalagi dicela. Maka sulit baginya merasa bahagia. -- Ada orang yang sangat benci kepada Sayyid Ali Zainal Abidin bin Husein. Suatu ketika saat baru keluar dari masjid, Sayyid Ali dicaci maki oleh orang itu. Selesai dicaci, Sayyid Ali tidak marah. Justru ia berkata, "Apa yang kau katakan itu baru sedikit. Sedangkan aib diriku yang engkau tidak tahu masih banyak lagi." -- Lantas Sayyid Ali menyalami orang itu sambil memberikan segepok uang. Si pencaci gemetar, ia terkesima oleh keluasan hati orang yang dicacinya, lalu berujar, "Aku bersaksi bahwa engkau benar-benar keturunan Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam." WAWADHO'NAA 'ANKA WIZROK, dan sudah kami singkirkan bebanmu, ALLADZII ANQODHO ZHOHROK, yang memberatkan punggungmu. -- Orang bahagia bukanlah orang yang tidak pernah punya masalah. Bukan pula orang yang tidak punya beban hidup. Orang yang mengaku tidak punya masalah atau beban, mungkin dia belum betul-betul menjalani kehidupan. -- Orang bahagia ialah ia yang berani menghadapi masalah, berusaha memikul beban hidupnya, bertahan menahan berat di pundaknya, berjuang menuntaskan amanah dan tugas yang diembannya. WAROFA'NAA LAKA DZIKROK, dan sudah kami tinggikan sebutanmu. -- Orang yang mampu menuntaskan tugas dan tanggung jawab, bagaimanapun hasilnya, maka namanya luhur. Reputasinya baik. Sedangkan reputasi adalah modal dalam segala hal di dunia ini. Urusan usaha, kepemimpinan, hingga perjodohan, bergantung kepada reputasi yang baik.

Itulah ciri-ciri orang yang bahagia; luas hatinya, tegar menghadapi masalah hidup, dan dikenal amanah atas segala tanggung jawabnya. Lalu bagaimana cara agar bisa menjadi orang dengan kualitas semacam itu?

Ada di ayat-ayat selanjutnya:

FAINNA MA'AL 'USRI YUSRO, maka sungguh bersama kesulitan ada kemudahan, INNA MA'AL 'USRI YUSRO, sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.

-- Kita musti jeli melihat peluang di setiap kesempitan. Kita harus fokus pada solusi daripada masalah. Kita gali celah-celah kemudahan di setiap kesulitan yang dihadapi. Sebab kesulitan yang datang selalu satu paket bersama kemudahan yang disiapkan Tuhan.

-- Sebagaimana falsafah untung ala Jawa, bahwa di setiap kemalangan yang menimpa masih ada keberuntungan yang didapatkan. "Ah, untung cuma motornya yang remuk," "Ah, untung cuma patah tulang," "Ah, untung masih hidup."

FA IDZAA FAROGHTA FANSHOB, maka jikalau engkau sudah selesai (dari suatu urusan) maka tegakkan dan lanjutkan (pada urusan lainnya), WA ILAA ROBBIKA FARGHOB, dan hanya kepada Tuhanmu engkau berharap.

-- Tegak dan bersiaplah menghadapi tantangan-tantangan selanjutnya. Selalu sibuk dalam berusaha, berproduksi, berinovasi, berjuang dan beribadah. Sambil selalu menghadapkan harapan hanya kepada Allah. Harapan kepada selain-Nya hanya akan berujung kecewa. Kembalikan segala-Nya kepada Allah, baik saat sukses maupun gagal.

Itulah cara agar kita bisa berlapang dada, siap menghadapi masalah, serta terhindar dari stres dan depresi. Yakni dengan selalu fokus pada peluang dan solusi, serta menyandarkan segala ekspektasi hanya kepada Allah Ta'ala.

Tuwel, Syawal 1447 H / Maret 2026

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya