Kisahjiwa #1 - Kesadaran Rohani

Kita sudah ada sejak dahulu kala. Jauh saat Bapak Adam berdiam di kerindangan surga. Kita sudah ada di sana. Roh kita sudah tercipta. Bahkan DNA kita sudah bertengger di sulbinya.

Jiwa kita sudah tercipta di surga sana, jauh sebelum lahirnya badan ragawi kita di alam dunia. Jasad ini mungkin terbentuk dari elemen-elemen tanah di bumi, tapi jiwa kita berasal dari tiupan ilahi.


Maka kerinduan kepada asal-muasal sejati, kepada surga, kepada Sang Pencipta, ialah tanda menancapnya iman dalam hati. Hubbul wathon minal iimaan.


Kita adalah jiwa-jiwa surgawi yang diperjalankan di muka bumi. Di padang Arafah kita pernah berkumpul dan Allah bertanya, "Alastu birobbikum? Bukankah Akulah Tuhan kalian?". Lalu kita serempak berikrar: "Balaa syahidnaa! Ya, kami bersaksi!"


Ingat-ingatlah.


Kita yang sejati ini adalah entitas tua berupa jiwa, yang terkurung di dalam wadah muda berwujud raga. Sayang sekali kita kerap lupa tentang jati diri, mondar-mandir sibuk oleh kebutuhan badani.


Padahal kesadaran tentang kesejatian jiwa adalah pintu gerbang menuju kemerdekaan sejati. Kesadaran rohani inilah yang mengantarkan para wali menjadi wali, yang menempa mereka sehingga tak lagi takut maupun resah. Laa khoufun 'alaihim walaa hum yakhzanuun.


Sebab ketakutan dan keresahan selalu bersumber dari raga. Sakit, perih, lelah, penat, lapar, dan mati. Itu semua adalah jeratan raga. Sementara para kekasih Tuhan sudah mencapai kesadaran rohani yang serba-jiwa. Entah raganya sakit-sehat, suka-duka, lelah-segar, lapar-kenyang, hidup-mati, sama saja buat mereka.


Untuk menjaga raga tetap sehat, ia butuh makan, rehat, dan olahraga. Makanan raga berasal dari bumi, dari tanah, sebagaimana asal kejadiannya. Demikian pula jiwa, makanannya berasal dari alam ketinggian, cahaya ketuhanan. Yakni dengan menghadirkan Nama Agungnya melalui rapal-rapal zikir dalam keheningan. Itulah makanan bagi jiwa.


Terutama dengan kalimat luhur yang sudah kita kenal sejak dahulu kala:


Laa ilaaha illallaaah.

Laa ilaaha illallaaah.

Laa ilaaha illallaaah.



__
Sabilul Iddikar Imam Haddad

Majlis Ngiyup - 6/5/2026

Post a Comment

Sebelumnya Selanjutnya