"Gus! Gus! Alim kesurupan! Alim kesurupan!" teriak seorang warga memecah gema takbir Idul Fitri malam itu.
"Di mana?" sahut Khisom sambil bergegas keluar dari mushalla.
Mereka pun segera menuju rumah Alim (bukan nama sebenarnya), remaja yatim piatu yang hidup nelangsa. Ia nampak terkapar menggeliat-geliat di lantai. Beberapa ustadz sudah datang untuk membaca-bacainya. Tidak mempan. Anak itu tak juga sadar.
Khisom mendekat. Ia mendudukkan Alim dan menepuk-nepuk punggungnya. Alim pun muntah. Isi perutnya berhamburan. Khisom melihat sesuatu yang aneh di antara muntahan itu. Ada dua butir pil yang masih utuh dan sangat ia kenal.
"Kenapa, Lim? Kenapa kamu minum ini?" tanya Khisom kepada santrinya itu setelah kesadarannya pulih.
"Kangen bapa mama, Gus," jawabnya lirih.
Khisom hanya bisa menghela napas. Ternyata Alim teler setelah menenggak beberapa pil tramadol, obat keras yang semestinya tidak dijual bebas. Biasanya dipakai untuk pereda nyeri hebat pascaoperasi, atau bahkan untuk penenang hewan.
Peredaran obat keras ini sudah lama meresahkan Khisom dan warga kampungnya. Dijual di kios-kios pinggir jalan. Kali ini salah satu santrinya yang kena. Bahkan tak lama dari kejadian itu, keponakannya yang masih kelas 2 SMP juga overdosis obat itu.
"Tidak bisa dibiarkan!" desis Khisom tak bisa menahan emosi.
Khisom coba mengajak organisasi pemuda untuk bertindak. Tidak ada yang berani. Maka ia pun berangkat sendiri. Dua kios ia datangi. Hanya ketemu penjaganya, bukan pemiliknya. Cekcok memanas. Baku hantam pun tidak bisa dihindari. Sebagai pendekar, tidak sulit bagi Khisom untuk menghajar mereka. Sampel obat-obatan dia sita sebagai bukti.
Beberapa hari kemudian, pemilik warung menghubungi Khisom, mengajak bertemu untuk 'silaturahmi'. Tentu saja ia ladeni, sebab orang itulah yang dia sasar untuk protes. Bakda isya Khisom keluar rumah, menyalakan sepeda motornya. Sendirian.
"Mau kemana, Som?" tanya ayahnya yang sudah sepuh.
"Ketemu sama orang yang warungnya saya obrak-abrik kemarin," jawab Khisom.
"Oh iya, hati-hati," pesan sang ayah.
Khisom sampai di suatu warung nasi goreng sepi pinggir jalan. Di tempat inilah ia bertemu tiga orang. Satu pemilik kios penjual Tramadol dan dua temannya. Mungkin pengawal. Khisom merasa cukup lega sebab mereka bersikap sangat santun.
"Mohon maaf atas kejadian di warung saya tempo hari," ujar pria itu dengan begitu sopan.
"Tidak perlu minta maaf," sahut Khisom, "Saya hanya minta Anda tidak jualan di wilayah kami lagi."
"Hmm.. Anda tidak perlu ikut campur," kata pria itu mulai dingin, "Boleh tolong ambilkan saya minum?"
Khisom terdiam. Ia melirik teko air minum di belakangnya, berbalik, mengambil gelas dan menuangkan air dari teko.
Jleb!
Sesuatu menancap di leher Khisom. Ia masih termangu. Mencoba menyadari apa yang sedang terjadi.
Jleb! Jleb!
Beberapa tusukan menancap di punggung dan pinggangnya. Khisom mulai merasa nyeri. Ia pun memutar tubuh. Nampak orang itu sedang mengayunkan pisau sekali lagi ke arah kepalanya.
Cras!
Khisom menangkap bilah pisau itu dengan telapak tangan kanannya. Kemudian membanting orang itu ke lantai dan menghajarnya. Dua orang lain berusaha menyerang Khisom, tapi berhasil dihajar pula. Khisom oleng sebab pendarahan yang cukup parah. Tiga penjahat itu kabur tunggang langgang.
Dengan tubuh yang berlumur darah, Khisom langsung menyambar sepeda motor. Telapak tangannya sudah tak bertenaga untuk menggengam, maka ia gunakan jari tengah dan telunjuknya untuk mencengkeram setang gas.
Beruntung, ia masih selamat dan berhasil sampai di rumah. Sambil sempoyongan, ia masuk rumah dan memanggil-manggil istrinya. Sang ayah yang melihatnya pulang dengan selamat pun menyambut, "Nih, udud dulu," sambil menyodorkan selinting rokok dan menyalakan korek api.
Kejadian penusukan ini membuat geger rekan-rekan Khisom. Terutama para anak vespa dan anak punk yang diasuhnya di majlis "Ngaji nDalan". Beberapa hari setelahnya, mereka kompak menggeruduk kios-kios itu, yang berlokasi di daerah prostitusi. Mereka mengamuk. Menghancurkan.
Dampaknya, ketegangan pun meluas antar elemen kelompok. Saling ancam antara penolak dan pembela. Entahlah, rumit. Tapi tuntutan Khisom dan kawan-kawannya jelas: tindak tegas kios-kios penjual obat-obatan keras.
Hingga pada suatu hari ada orang datang ke rumah Khisom. Ngobrol santai, kemudian menyodorkan angka sekian puluh juta rupiah kepadanya. Uang damai. Ongkos bungkam. Khisom terdiam, lalu melirik ayahnya.
"Som," tukas sang ayah, "Mending kamu mati, daripada harus kompromi dengan kejahatan. Nanti biar anak-anakmu bapak yang rawat."
_____
Salatiga, 1 April 2026
*Cerita ini saya reka ulang dari kisah nyata Gus Nur Khisom, pengasuh Pesantren & PKBM Nurul Huda Pamiritan, Balapulang, Tegal, yang terjadi dua tahun lalu. Kabar penganiayaan yang dialaminya bisa dibaca melalui tautan di kolom komentar.
*Berita tentang penyalahgunaan obat-obat keras seperti tramadol dan heximer sudah banyak mencuat di media. Mari kita awasi betul generasi muda di sekitar kita. Jika sudah terbukti ada peredarannya, mari desak aparat dan pemerintah setempat untuk tegas menindaknya.
*Belakangan, ia bersama beberapa pegiat sosial kemasyarakatan di Tegal membuat organisasi GMTB (Gerakan Masyarakat Tegal Berdaulat) untuk mengedukasi dan mengadvokasi isu-isu sosial-politik yang terjadi di wilayah Kabupaten Tegal. Menurutnya, perjuangan masyarakat sipil tanpa wadah untuk bersinergi hanya buang-buang energi.
*Foto: saya (tengah), diapit Gus Khisom (kanan) dan Mas Moka (kiri) yang sedang berjuang mewujudkan kedaulatan masyarakat melalui Nurul Huda Foundation. Yayasan ini menggarap program kedaulatan pendidikan, kesehatan, pangan, ekonomi, budaya, dan politik.
